Email dari Seorang Sahabat “Hati yang Takkan Pernah Patah”
March 25th, 2008 by sarang-semutquBeberapa hari yg lalu, aq menerima sebuah email dari seorang sahabatqu-Decky.
Sebenarnya, Decky hanya iseng mengirimkan email itu, yaaa,,seperti biasa kl ada email masuk k inboxnya n menurut dia bagus, dia akan langsung meneruskannya ke teman2 lain, termasuk aq.
Email itu berisi artikel sederhana ttg patah hati - Ya, memang tema artikel yang banyak ditulis orang, tapi entah kenapa artikel ini ngena banget k aq . Mungkin karena aq pernah patah hati n pernah pusing untuk menyikapi n mengatasi masalah patah hati ;p - kl nginget kejadian n proses selama recovery jadi pengen ketawa
- Yaa, itulah salah satu proses yang harus aq lewati untuk pendewasaan diri. Awalnya nangis bombay - hehehe.. ga gitu juga seh - n uring2an ga jelas. Padahal kl qta mau melihat kejadian itu dengan kepala dingin n mau bergeser sedikit untuk mendapatkan sudut pandang lain ttg masalah itu, pasti qta bakalan nemuin kebahagian yang selama ini tersembunyi. Ternyata semuanya Indah!!
Ya, aq akan terus positive thinking n terus tersenyum menghadapi semua kejadian dalam hidupqu ! Karena semua itu indah n krn aq ga akan pernah sendiri, banyak orang-orang yang menyayangiqu n slalu akan menyayangiqu =) dan satu hal yang pasti bahwa Sang Pemilik Cinta tidak akan berhenti mencintaiqu dan mendampingiqu. Ya, DIA akan selalu bersamaqu. Terima kasih Ya Rabb.
Melalui blog ini, aq mau berbagi isi email itu…Judul artikelnya "Hati yang Takkan Pernah Patah"
ALLAAHUAKBAR]
Hati yang Takkan Pernah Patah (cinta diterima: ALHAMDULILLAAH, cinta ditolak:
ALLAAHUAKBAR)
Ditulis pada Februari 21, 2008 oleh Ainu Amri Tanjung
Hati
yang Takkan Pernah Patah
“Tak pernah terbayang dalam benakku tuk bertemu dia
lagi”, begitu tulisan yang terbaca di status Yahoo Messenger (YM) seorang
sahabat, ku ajukan sebuah pertanyaan, “habis ketemu siapa tuh..?”, ku duga pasti
ini mengenai kisah cinta, dan betul saja, maka mengalirlah kisah kasih yang tak
sampai.
Pernahkan anda mencintai seorang lawan jenis sedemikian hebatnya,
sampai-sampai merasa bahwa inilah cinta sejati anda? Pernahkah anda merasakan
bahwa ada seseorang yang sedemikian menariknya dan merasa bahwa ia adalah orang
yang paling tepat tuk bersama-sama mengarungi hidup? Dan pernahkan pula anda
merasa bahwa ternyata, cinta anda bertepuk sebelah tangan, harapan-harapan anda
pupus terhempas realita, dan kesedihan anda begitu menguasai jiwa?
Malam-malam terlewati disertai air mata yang mengalir, hari-hari dilalui
dengan kehampaan yang menyelimuti, dan anda hidup di dunia bagaikan sesosok
mahluk tanpa nyawa yang sembari menekan rasa sakit di dalam hati akibat cinta
yang tak seindah harapan.Patah hati memang telah lama menjadi sumber inspirasi.
Entah telah berapa banyak karya-karya sastra yang dibangun berdasarkan
pengalaman pahit cinta ini. Lagu-lagu tercipta dengan indah ketika sang
pengarang sedang merasakan kepedihan patah hati; puisi-puisi terlantun
menyedihkan bertebaran menemani sang penyair yang sedang dirundung kesedihan
patah hati; novel maupun cerpen mengalir menuturkan pedihnya patah hati.
Sadari saudaraku, bahwa sesungguhnya tak pantas kita merasa patah hati. Hati
seorang muslim itu terlalu lembut tuk bisa patah. Hanya meraka yang memiliki
hati yang keraslah yang mungkin merasakan patah hati. Hanya mereka yang menempuh
jalan yang berlikulah yang pantas tuk patah hati. Mereka yang telah berusaha
menapaki jalan lurus, tidak seharusnya dan tidak boleh merasa patah hati.
Ketika kita telah mengajukan lamaran dan mengajak seseorang tuk menikah dan
ditolak, maka tidak perlu ia merasa patah hati. Toh ia telah menjalankan suatu
ibadah, membuktikan niatan suci dalam hati, dan berusaha menjalani sunnah dengan
menikah, dan menjaganya dari cara-cara yang tidak diridhoiNya.
Ada
pelajaran yang sangat
berharga dari Bilal bin Rabah, muadzin kecintaan Rasulullah SAW tentang
meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap Kabilah Khaulan, Bilal
mengemukakan: “Saya ini Bilal, dan ini saudaraku. Kami datang untuk meminang.
Dahulu kami berada dalam kesesatan kemudian Allah memberi petunjuk. Dahulu kami
budak-budak belian, kemudian Allah memerdekakan…,” kata Bilal. Kemudian ia
melanjutkan, “Jika pinangan kami Anda terima, kami panjatkan ucapan
Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah). Dan kalau Anda menolak, maka kami
mengucapkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar).”
Bukankah sebagai seorang
muslim, ketika ia telah meniatkan suatu kebaikan maka Allah
kan
mencatatnya sebagai
suatu amalan, apalagi kalau dia telah menjalankannya. Terlepas dari apapun
hasilnya.
Dari Abdullah bin Abbas r.a. berkata: Rasulullah SAW.
bersabda, “Sesungguhnya Allah mencatat segala hasanat (kebaikan) dan sayyiat
(kejahatan) kemudian menjelaskan keduanya maka barangsiapa yang berniat akan
melakukan kebaikan lalu dikerjakannya maka akan dicatat untuknya sepuluh hasanat
mungkin ditambah hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu. Dan apabila
ia berniat akan melakukan sayyiat (kejahatan) lalu tidak dikerjakannya maka
Allah mencatat baginya satu hasanat dan jika niat itu dilaksanakannya maka
ditulis baginya satu sayyiat.” (HR. Bukhari - Muslim)
Setiap orang berhak
tuk menerima atau menolak pinangan, baik laki-laki maupun perempuan. Dan sudah
seharusnya kita bisa berbesar hati dan bersikap dewasa dalam menerima segala
keputusan. Apalagi keputusan menikah yang merupakan salah satu hal yang sangat
besar.
Allah swt berfirman,
Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali,
padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai
suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian
yang kuat. (QS. An-Nisaa’: 21)
Kalimat “mitsaqon ghalidza” atau “perjanjian
yang kokoh” yang digunakan, sama persis seperti yang digunakan pada ayat,
Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk
(menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan
kepada mereka: “Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami
perintahkan (pula), kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai
hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. (QS.
An-Nisaa’: 154)
Maka dari itu, jika pertimbangan yang mesti dilakukan
terlalu hati-hati, dan keputusan yang harus diambil merupakan keputusan yang
mungkin terasa berat (diterima sebagian pihak), maka haraplah maklum.
Toh,
itu semua kita jalani atas landasan cinta kepada Allah. Bukankah itu semua kita
jalani atas niatan karena Allah semata, demi meraih ridhoNya, tuk mengikuti
sunnah Rasulullah SAW. Maka dari itu, tiada alasan bagi kita tuk merasa patah
hati.
Sungguh Allah sangat menyayangi hamba-hambanya yang beriman,
Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisaa’: 29)
Dan sungguh Allah adalah zat yang maha mengetahui lagi maha bijaksana. Dan
sudah barang tentu, Ia kan memberikan kita, pilihan yang terbaik
menurutNya.
Semoga kita bisa bercermin dari kisah nabi
Yusuf AS
, ketika beliau dihadapkan pada cobaan besar
dan ujian yang berat, bukan hanya sehari maupun dua hari, namun tahunan, dengan
pilihan-pilihan yang serba terbatas. Dengarkanlah bagaimana perkataan beliau,
Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf: 100)
Ingat satu hal, “Pejuang Cinta Takkan Pernah Kalah”, karena orientasi cinta
yang ada di dirinya adalah orientasi cinta yang menembus awan dunia dan bermuara
pada cinta kepada Rabbnya. Semoga kita bisa menjadi “Pejuang Cinta Sejati”… Amin
—
Jakarta, 28 Januari 2008
Syamsul Arifin
(http://genkeis.multiply.com)
Untuk yang pernah bersedih karena “cintanya
telah menang”, bergembiralah merayakan cinta, dan sambutlah (cari, -red) cinta
yang telah Allah siapkan untukmu
http://suryaningsih.wordpress.com/2008/01/29/hati-yang-takkan-pernah-patah/